Senin, 14 September 2015

FILSAFAT ISLAM SERTA HUBUNGANNYA DANGAN DISIPLIN ISLAM

9:20 AM

FILSAFAT ISLAM SERTA HUBUNGANNYA DANGAN DISIPLIN ISLAM


PENDAHULUAN
Pembicaraan tentang filsafat Islam tidak terlepas dari pembicaraan filsafat secara umum. Berpikir filsafat merupakan hasil usaha manusia yang berkesinambungan diseluruh dunia. Akan tetapi, berpikir filsafat dalam arti berpikir bebas dan mendalam atau radikal yang tidak dipengaruhi oleh dogmatis dan tradisi. Di dunia Islam, filsafat telah melalui berbagai macam periode. Filsafat Islam lahir pada abad ke-2 H. Filosuf muslim pertama adalah Abu ishaq Al-kindi. Dari sisi metodologinya filsafat Islam berbeda dengan teologi (ilmu kalam). Filsafat Islam berada pada semangat inkorporasi atau mendamaikan antara akal dengan wahyu. Gabungan antara pemikiran liberal dan kepercayaan religius. Secara ontologis filsafat Islam menyakini adanya relitas hierarkis yang terbentang dari alam metafisik hingga fisik. Secara epistemologis filsafat islam menyakini akal, hati, indra dan teks suci sebagai sumber pengetahuan yang valid.
Pandangan terhadap filsafat adalah lebih umum dan lebih universal dibandingkan dengan pandangan kita terhadap filsafat pada masa sekarang, karena pandangannya amat mirip dengan pandangan yunani.
Maka dari itu, kelompok kami akan membahas tentang pengertian dari filsafat Islam serta hubungan-hubungannya dengan disiplin Islam lainnya seperti: ilmu kalam, ilmu tasawuf dan fiqih.












PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat Islam
            Filsafat islam merupakan filsafat yang seluruh  cendekiawannya adalah muslim atau pemikiran kaum muslim. Filsafat Islam merupakan gabungan dari kata Filsafat dan Islam. Menurut Mustofa Abdur Razik, Filsafat Islam adalah filsafat yang tumbuh di negri Islam dan berada di bawah naungan negara Islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat islam dengan filsafat lain. Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih mencari Tuhan, didalam filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsafat islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam.
1.      Beberapa definisi
Karena luasnya ruang lingkup pembahasan ilmu filsafat, maka tidaklah mustahil kalau banyak diantara para ahli filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Beberapa definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf barat dan timur yaitu:
a.       Plato (427 SM – 347 SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran yang asli).
b.      Aristoteles (382 SM – 322 SM) mengatakan : filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi : kebenaran, logika, retorika, ekonomi, politik dan estetika.
c.       Marcus Tullius Cicero (106 SM – 34 SM) politikus dan pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
d.      Al-Farabi (wafat 950 M), filsuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan: filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebrnarnya.
e.       Immanuel Kant (1724 – 1804), yang sering disebut raksasa berpikir barat, mengatakan : filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal dari segala pengetahuan.
f.       Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan.
g.      Drs. H. Hasbullah Bbakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia.

Dengan memperharikan devinisi-devinisi di atas maka di artikan bahwa Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang ada secara mendalam dalam mempergunakan akal sampai pada hakikatnya. Filsafat tidak mempersoalkan gejala-gejala atau fenomena, tetapi yang dicari adalah hakikat dari suatu fenomena.[1]

2.      Ciri khas Filsafat Islam

a)      Sebagai filsafat religius-spiritual
Filsafat Islam berlandasan pada prinsip agama dan amanat bertumpu pada ruh. Dikatakan filsafat religius, karena  filsafat Islam bertumbuh di jantung Islam; tokoh-tokohnya di didik dengan ajaran Islam. Topik-topik filsafat Islam itu bersifat religius, dimulai dengan meng-esa-kan Tuhan dan mengaanalisa secara universal dan menukik teori ke Tuhanan.
b)      Filsafat Rasional
Walaupun berciri khas religius-spiritual, tetapi filsafat Islam juga amat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan, manusia, dan alam. Karena dengan akal, kita dapat menganalisa dan membuktikan, Dengan akal juga kita dapat menyingkap realita-realita ilmiah, dan dengan akal, manusia dapat membedakan baik dan buruk, bahkan mampu membedakan baik buruk sebelum ada ketentuan agama. Karena akal merupakan salah satu pintu ilmu pengetahuan.
c)      Filsafat Singkretis
Filsafat Islam memadukan antara sesama filosof. Memadukan berarti mendekatkan dan mengumpulkan dua sudut. Dalam hal ini mereka lebih berkonsentrasi pada Plato dan Aristoteles. Untuk itu mereka menerjemahkan dialog-dialog terpenting Plato dan juga menerjemahkan hampir semua buku standar karya Aristoteles. Tidak hanya menterjemahkan buku-buku Aristoteles saja, tetapi mereka berusaha sekuat tenaga untuk menterjemahkan komentar-komentarnya, karena komentar-komentar ini mereka pandang penting sekali.[2]

3.      Objek materia dan forma
Objek adalah sesuatu yang merupakan bahan dari suatu penelitian atau pembentukan pengetahuan. Setiap ilmu pengetahuan pasti mempunyai objek, yang dibedakan menjadi duan,yaitu objek material dan objek formal.

Ø  Objek Material filsafat

            Objek materia adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkret ataupun hal yang abstrak.

Ø  Objek Formal Filsafat

 Objek forma, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah ’’manusia’’ dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.

Objek formal filsafat, yaitu sudut pandangan yang menyeluruh, secara umum sehingga dapat mencapai hakikat dari objek materialnya.[3]











B.     Hubungan filsafat Islam dengan disiplin Islam
Filsafat Islam dengan ilmu kalam
Ilmu Kalam adalah suatu ilmu Islam asli yang menurut pendapat paling kuat, bahwa ia lahir dari diskusi-diskusi sekitar Al-Quran yaitu kalam Allah, apakah ia Qodim atau makhluk.
Filsafat dan tasawuf
Tasawuf adalah pembersihan hati dari mengikuti kehendak manusia, melepaskan akhlak alamiah dengan memadukan sifat-sifat manusiawi menjauhi panggilan-panggilan hawa nafsu, menempati sifat-sifat kerohanian, terpaut dengan ilmu-ilmu hakikat, selama-lamanya memakai sifat-sifat ketuhanan, memberi nasihat bagi semua umat, setia kepada Allah, secara hakiki dan mengikuti Rasulullah SAW. Dalam syariat.
Antara filsafat dan tasawuf mempunyai perbedaan yang sangat besar . filsafat memandang sesuatu dengan menggunakan akal, dan menggunakan metode argumentasi dan logika. Akan tetapi tasawuf dengan jalan mujahadah (pengekangan hawa nafsu) serta musyahadah (pandangan batin).
Filsafat dan Fiqih
Dimana ushul fiqih menurut kitab Ar-Risalah adalah kitab yang ilmiah dengan pembahasan yang sistematis susunannya dalam disiplin ilmu. Juga terlihat dengan adanya pemikiran filosofis dalam Islam yang dicerminkan adanya perhatian dalam mengukur suatu hal yang mendetail dan partial (sebagaian) menurut kaidah-kaidah umum dan dengan tidak mengabaikan aspek fiqihnya yakni menarik hukum-hukum syariat secara mendetail dengan alasan-alasan terperinci.[4]






C.    Aliran-aliran Filsafat Islam
Ada beberapa aliran pokok dalam Islam yaitu aliran-aliran Syi`ah, Khawaij, Mu`tazilah dan Asy`ariah.
1.      Aliran Syi`ah
Aliran syi`ah berbeda pendapat dengan aliran-aliran lain, di antaranya alam penderitaan. Bahwa penunjukkan iman sesudah wafat Nabi ditentukan oleh Nabi sendiri dengan nash, Nabi tidak boleh melupakan nash ini terhadap pengangkatan khalifahnya, sehingga menyerahkan pekerjaan pengangkatan itu secara bebas kepada umatnya dan khalayak ramai.
      Selanjutnya, Syi`ah berpendirian bahwa seorang imam yang di angkat itu harus maksum atau terpelihara dari dosa besar dan dosa kecil, dan bahwa Nabi Muhammad dengan nash meninggalkan nasihatnya untuk Ali bin Abi Thalib adalah seorang sahabatnya yang pertama dan utama.


2.      Aliran Khawarij
Pokok-pokok pendirian aliran ini antara lain, bahwa khalifah orang Islam tidak harus dari seorang arab, kesalahan dalam berpikir dan berijtihad adalah dosa apabila terdapat pertentangan dengan pikiran mereka. Oleh karena itu mereka mengkhalifahkan Ali karena menerima tahkim, meskipun tahkim damai antara Muawiyah dan Ali tidak ditemukan secara merdeka. Madzhab Azraqiyah dari aliran ini berkeyakinan, bahwa setiap orang Islam yang menyalahi pendiriannya di hukum musyrik, tetap dalam api neraka, wajib di bunuh dan di perangi.
3.      Aliran Mu`tazilah
Aliran ini mempunyai lima pendirian yaitu:
a.       At-Tauhid, keyakinan bahwa Allah itu satu delam zat dan sifat-Nya, dan sifat Allah itu adalah zat Allah itu sendiri.
b.      Al-adl, bahwa Tuhan itu adil, yaitu bahwa manusia itu diberi kemampuan yang merdeka untuk bertindak dan tidak di gerakkan oleh kodrat dan iradat Tuhan saja.
c.       Al-Manziliah baina maazilataini, memberikan kedudukan di antara dua kedudukan mukmin dan kafir.
d.      Al-Wa`ad wal wa`id, yang dimaksud dengan istilah ini bahwa jika Allah menjanjikan pahala atas suatu kebajikan meski dikerjakannya, dan apabila ia menjanjikan siksaan atas suatu kejahatan, maka janjinya itupun wajib ditepati, tidak berhak Tuhan memberikan ampunan atas janji yang sudah ditetapkan.
e.       Amar ma`ruf nahi mungkar, pekerjaan ini wajib berdasarkan akal manusia, bukan berdasarkan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya.
f.       Aliran Al-Asy`ariah, Aliran ini menentang pendirian-pendirian Mu`tazilah yang lima itu. Aliran ini berkata bahwa sifat Allah itu bukan zat-Nya, tetapi suatu tambahan atas zat-Nya. Tiap manusia berbuat atas kehendak Tuhan, tidak mempunyai kemampuan yang bebas. Allah tidak wajib memenuhi janjinya atas kabaikan dan kejahatan, dengan memberi pahala kepada yang berbuat baik dan menyiksa yang berbuat jahat. Bahwa orang yang berbuat dosa besar tidak tidak di letakkan di antara orang mukmin dan orang kafir, dan bahwa amar ma`ruf nahi mungkar itu diwajibkan karena Al-Qur`an dan Hadits, bukan karena penetapan akal manusia.[5]


D.    Perbedaan antara filsafat Barat dan Timur


Filsafat Barat
Filsafat Timur
Kedudukan manusia
Manusia manusia lepas atau terpisah dari (lingkungan alam)
Manusia merupakan bagian  yang tak terpisahkan dari lingkungan (alam)
Keberadaan Tuhan
Sebagian Filsuf menolak, tetapi sebagian lagi mengakui keberadaan Tuhan
Tuhan terpisah dan berbeda dari alam
Realitas
Sebagian besar Filsuf menilai realitas sebagai sesuatu yang objektif dan mereka dapat menarik diri dari realitas yang di pikirkannya
Karena manusia merupakan bagian dari realitas, maka realitas tidak dapat di pikirkan secara objektif. Manusia tidak dapat menarik diri darinya
Agama
Kecuali pada abad pertengahan, agama terpisah dari filsafat
Filsafat dan agama tidak dapat terpisahkan
Ciri khas filsafat
Sebagai aktifitas intelektual
Filsafat sebagai aktivitas kontemplasi kehidupan
Metode
Pengalaman empiris dan rasio adalah alat untuk menyusun pengetahuan (filsafat)
Pengalaman dan rasio penting, tapi penghayatan hidup dan intuisi (pengalaman langsung tanpa media, teori atau konsep-konsep teoritis lebih penting lagi)
Sistematika
Sistematis, misalnya ada pembedaan tegas antara metafisika, epistimologi, dan aksiologi beserta cabang-cabangnya
Tidak memiliki sistematika seperti filsafat barat
Terapan filsafat
Berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan
Menjadi landasan atau pegangan kehidupan sehari-hari
Pusat atau tempat aktivitas berfilsafat
Terutama di lingkungan akademik (universitas)
Lingkungan nonakademik (antara lain tempat-tempat ibadat)
Beberapa contoh aliran-aliran atau jenis-jenis filsafat
Idealisme, materialisme, empirisme,rasionalisme, pragmatisme, eksistensialisme.
Taoisme, confusionisme (china), shinto (jepang), buhisme, hinduisme (india). [6]















PENUTUP


Kesimpulan :

            Filsafat islam merupakan filsafat yang seluruh  cendekiawannya adalah muslim atau pemikiran kaum muslim. Filsafat Islam merupakan gabungan dari kata Filsafat dan Islam.
Ciri khas filsafat islam,
Ø  sebagai filsafat religius spiritual
Ø  sebagai filsafat rasional
Ø  sebagai filsafat sinkretis
Ø  sebagai filsafat yang berhubungan kuat dengan ilmu pengetahuan.

Objek materia dan forma
Ø  Objek Material filsafat

            Objek materia adalah suatu bahan yang menjadi tinjauan penelitian atau pembentukan pengetahuan itu. Objek material juga adalah hal yang diselidiki, dipandang, atau disorot oleh suatu disiplin ilmu. Objek material mencakup apa saja, baik hal-hal konkret ataupun hal yang abstrak.

Ø  Objek Formal Filsafat

 Objek forma, yaitu sudut pandangan yang ditujukan pada bahan dari penelitian atau pembentukan pengetahuan itu, atau sudut dari mana objek material itu disorot. Objek formal suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, objek materialnya adalah ’’manusia’’ dan manusia ini ditinjau dari sudut pandangan yang berbeda-beda sehingga ada beberapa ilmu yang mempelajari manusia diantaranya psikologi, antropologi, sosiologi, dan sebagainya.










DAFTAR PUSTAKA

Ø  Mustofa Ahmad.1997.Filsafat Islam.Bandung:CV. Pustaka Stia
Ø  Madkour ibrahim.2002.Aliran dan Teori Filsafat Islam.Jakarta:PT Bumi Aksara
Ø  Abidin Zainal.2011.Pengantar Filsafat Barat.Jakarta:PT Raja Grafindo Persada
Ø  http://sang-pemikir.blogspot.com/2008/12/objek-material-dan-objek-formal.htm


                                                          



[1] A. Mustofa, H. Filsafat Islam, (Bandung : CV Pustaka Setia, 1997), hlm. 9
[2] Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, (Jakarta : PT Bumi Aksara, 2002), hlm.244
[3] http://sang-pemikir.blogspot.com/2008/12/objek-material-dan-objek-formal.htm
[4] Opcit, hlm 45
[5] Opcit, hlm. 48
[6] Zaenal Abidin, Pengantar Filsafat Barat, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2011), hlm 2-3

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Kumpulan Makalah. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top