Selasa, 15 September 2015

Hadits tentang menggunakan tongkat

9:33 AM

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hadits tentang menggunakan tongkat

عن أبي سعيد الخدرى رضي الله عنهم، (أن النبي صلم الله عليه وسلم (غرز بين يديه غرزا، ثم غرز إلى جنبه آخر، ثم غرز الثا لث فأ بعده)، ثم قال: هل تدرون ما هذا ؟ قالوا: الله و رسوله أعلم، قال: هذا الإنسان و هذا أجله، و هذا أمله، يتعا طى الأمل و الأجل يختلجه دون ذلك)
Terjemahan
Dari Abu Sa`id Al Khudri berkata; “Bahwasanya Nabi SAW menancapkan kayu (tongkat) didepan beliau kemudian menancapkan yang lain di sampingnya, lalu menancapkan yang lainnya agak menjauh, kemudian beliau bersabda: “Apakah kalian tahu ini? Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, “beliau bersabda: “Ini adalah manusia dan ini ajalnya, sedangkan yang ini adalah angan-angannya, ia ingin mengambil angan-angannya, sedangkan ajalnya menariknya”. Ketika hampir mendapatkan angan-angannya.[1]
B.     Keterangan Hadits
Hadits di atas maenjelaskan bahwa suatu ketika Rasullullah SAW bertanya kepada para sahabat mengenai tiga tongkat yang beliau tancapkan (di depan beliau, di samping beliau, dan yang satu lagi agak menjauh dari yang ke dua). Kemudian sahabat menjawab, hanya Allah dan Rasul-Nya yang tahu. Kemudian beliau menjawab, yang pertama (di depan beliau) adalah manusia, yang ke dua (di samping beliau) adalah ajal, dan yang ke tiga (agak menjauh dari yang ke dua) adalah angan-angan. Manusia itu mempunyai angan-angan kemudian pada saat angan-angan itu hampir di gapainya, ajal menariknya dan menggagalkan angan-angan itu. Lebih jelasnya yaitu bahwa angan-angan manusia itu lebih jauh dari peda umurnya (ajal), selama dia masih hidup dia akan terus berangan-angan dan tidak akan puas dengan apa yang ia punya, jika angan-angan itu sudah tercapai maka akan muncul angan-angan yang baru. Hal ini terlihat pada tongkat yang ketiga (angan-angan) itu letaknya lebih jauh dari pada tongkat yang kedua (ajal).
C.    Uraian
Dalam mendekatkan dan menggambarkan suatu kenyataan, Rasulullah SAW kadangkala memakai sarana atau media peragaan.
Pada suatu hari Nabi SAW berbicara tentang muluk dan banyaknya angan-angan. Bahwa sesungguhnya manusia merasa tidak puas dengan hidupnya. Angan-angannya laksana gunung menjulang. Namun, kematian yang tidak diketahui meliputinya. Manusia tidak pernah merasa, kecuali ketika kematian itu benar-benar tiba, membuyarkan angan-angan dan menggagalkan rencananya.[2]
Rasulullah SAW pernah bersabda kepada `Abdullah bin `Umar, “Di pagi hari, janganlah engkau berbicara kepada dirimu sendiri tentang petang hari nanti, dan pada petang hari, janganlah berbicara tentang pagi hari nanti. Ambillah dari hidupmu sesuatu untuk matimu, dari kesehatanmu sesuatu untuk masa rentanmu karena sesungguhnya, wahai Abdullah, engkau tidak mengetahui dengan sebutan apa engkau akan dipanggil besok hari”.
`Ali r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Dua hal yang paling kutakuti dari kamu semua, melebihi segala sessuatu yang lain: menuruti hawa nafsu dan berpanjang angan-angan sebab menuruti hawa nafsu akan menghalangi orang dari kebenaran, sedangkan berpanjang angan-angan berarti mencintai dunia.” Kemudian beliau bersabda lagi, “Sesungguhnya Allah SWT menganugrahkan dunia kepada manusia yang dicintai maupun dibenci; dan apabila Dia mencintai hamba-Nya, diberikan-Nya kepadanya iman. Sungguh, agama itu mempunyai anak-anak. Begitu juga dunia; karena itu bergabunglah dengan anak-anak agama dan jauhilah anak-anak dunia. Sesungguhnya, dunia itu bergerak dan berlalu, sedangkan akhirat semakin mendekat. Sesungguhnya kamu sekalian tengah berada di suatu zaman saat ada amal tanpa perhitungan, tetapi akan tiba pada suatu masa saat ada perhitungan namun tak ada lagi amal.”[3]
Sesungguhnya jika manusia mulai menggemari dunia beserta hawa nafsunya, kesenangan-kesenangan dan pemikat-pemikatnya, tentu dia akan merasa berat untuk berpisah dengannya sehingga hatinya akan merasa enggan berpikir tentang kematian, yang menjadi sebab perpisahan itu; karena siapa yang membenci sesuatu pasti akan menghindar darinya. Manusia sering teperdaya oleh harapan yang sia-sia dan menenggelamkan dirinya kedalam keinginan untuk mencapai angan-angan itu. Satu-satu dambaan hatinya ialah kehidupan abadi di dunia ini. Dengan demikian dia tidak akan pernah berhenti mendambakan hal itu dan menambatkannya di dalam dirinya, bersama dengan keinginan mempertahankan kekayaan, keluarga, tempat tinggal, kendaraan dan semua sarana kehidupan duniawi. Sehingga menjadi berpaling dari mengingat maut lalu menganggapnya masih jauh.
Kalaupun pada suatu ketika terbetik kematian dalam ingatannya dan kebutuhan mencari bekal amal saleh untuk menghadapinya, diapun mengulur-ulur waktu dan membuat janji-janji kepada dirinya sendiri seraya berkata, “Masih banyak waktu dimasa depan sampai kamu menjadi dewasa dan matang. Setelah itu kamu bisa bertobat.” Namun, manakala dia sudah dewasa dan matang, dia pun berkata, “Tunggulah sampai kamu tua.” Akan tetapi, ketika pada usia tua, dia pun berkata, “Nanti saja setelah membangun rumah ini.” Dan sebagainya. Dia pun selalu terikat pada satu kesibukan duniawi kepada kesibukan duniawi yang lain. Sampai akhirnya dia di sambar oleh kematian pada saat yang tak pernah diperkirakannya dan ketika itu, dia pun hanya bisa meratap menyesalinya.[4]


D.    Aspek Tarbawi
Sesungguhnya keindahan dunia ini hanyalah ujian dari Allah, Ia ingin melihat siapakah diantara mereka yang terbaik amalnya dan yang terburuk. Manusia yang terbaik amalnya adalah yang memahami tentang hakikat kehidupan ini, ia mengerti dunia adalah negeri yang fana tidak kekal, tempat beramal, memperbanyak amal baik sebelum ajal tiba dan akhirat adalah tempat yang kekal abadi, saat mendapatkan balasan sebagaimana amal pada saat di dunia.
Manusia yang memahami hakikat ini akan menjadikan semua fasilitas kehidupan yang dianugrahkan Allah sebagai bekal untuk akhirat, keindahan dunia tidak dijadikannya sebagai tujuan akhir tetapi sarana menuju tempat yang lebih baik dan abadi, ia hidup di dunia ini seperti orang asing yang tinggal di negeri nan jauh dari negerinya, ia sangat merindukan kampung halamannya dan akan kembali pada suatu hari nanti, tak pernah ia membayangkan untuk hidup membina keluarga di negeri orang lain, tetapi hasil kerja kerasnya yang telah ia curahkan ia tabung untuk kembali ke kampungnya, setiap detik merupakan waktu yang sangat berharga untuk menanam amal di ladang dunia karena ia sadar bahwa ajal tidak pernah memberitahukan kapan akan datang, karena ia berada di dalam lingkarannya.[5]
Hal ini telah di jelaskan dalam firman Allah yang artinya: Katakanlah: Sesungguhnya maut yang kalian lari darinya itu, pasti akan mendapati kalian, lalu kalian semua pasti akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui segala yang gaib dan yang nyata. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada kalian apa-apa yang telah kalian lakukan.[6]
Dengan mengingat maut, maka dengan sendirinya akan menimbulkan ketidak senangan terhadap dunia yang serat dengan tipu daya dan mendorong manusia untuk melakukan persiapan nantinya di akhirat kelak



[1] http://www.Id.lidwa.com/app/
[2] M. Alawi Al-Maliki, Prinsip-prinsip Pendidikan Rasulullah, (Jakarta: Gema Insani Pers, 2002), hlm. 60
[3] Al-Ghazali, Metode Menjemput Maut, (Bandung: Mizan, 1989), hlm. 32
[4] Ibid., hlm. 40-41
[5] https://id-id.facebook.com/BelajarHukumIslam/posts/480808565294130
[6] Al-Ghazali,Op.Cit.,hlm. 25

Written by

We are Creative Blogger Theme Wavers which provides user friendly, effective and easy to use themes. Each support has free and providing HD support screen casting.

0 komentar:

Posting Komentar

 

© 2013 Kumpulan Makalah. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top